|
13 – 14 Desember 2009 di GoetheHaus (Pusat Kebudayaan Jerman) Jakarta
Posted by : Nancy ‘Ochie’ Ariani – DYC External Relation
"Itu orang Dayak apa orang Cina sih?" komentar seorang pengunjung saat menyaksikan seorang penari Dayak asli asal Kalimantan Timur membawakan Tarian Mandau. (A Day With Dayak, 22 November 2009, Anjungan Kalimantan Barat, Taman Mini Indonesia Indah). Lalu seorang panitia mengajaknya berbincang sejenak, "Memangnya menurut kamu orang Dayak itu seperti apa?" "Ya, berkulit gelap dan rambutnya keriting." jawab si pengunjung muda itu. "Wooow!" sela pengunjung yang lain, pada acara sore, Diskusi Budaya dan Fotografi, ketika dikatakan Dayak itu adalah sebuah suku yang besar dengan 400-an subsuku tersebar di seantero pulau Borneo. Jadi, orang Dayak itu rupanya macam-macam, dari berkulit putih bersih hingga coklat, bermata sipit dan lebar, berambut lurus dan kadang ikal. Tapi umumnya memang seperti komentar spontan yang pertama tadi :-). Saya juga sering sulit membedakannya, ...kirain, eh, ternyata :-) Lalu, festival kuliner makanan khas Kalimantan, nyaris ludes. Para ibu yang menunggui booth makanannya masing-masing tampak pulang dengan gembira. Dagangan laris :-) Menjelang malam, para panitia masih berada di Rumah Dayak. Gerimis kecil menambah dingin selasar rumah panjang itu. Setelah berdoa sebentar, mengucap syukur dan menaikkan ucapan terima kasih kepada Tuhan karena acara hari itu telah selesai dengan baik, masing-masing kembali sibuk bersiap-siap pulang. Sampai ketemu tahun depan, A Day with Dayak :-) Sudah selesaikah acara Komunitas Muda Dayak di Jakarta ini? OH, BELUM! Belum selesai. Masih ada satu kesempatan lagi untuk mengenali budaya Dayak. Komunitas Muda Dayak atau sering disebut DYC (kependekan dari Dayak Youth Community) akan menggelar acara budaya yang dinamakan "A Night with Dayak". Kali ini diadakan di Goethe Haus, kawasan Menteng, Jakarta, tanggal 13-14 Desember 2009. Sebetulnya inti dari acara ini adalah sebuah evening gathering DYC dengan jejaringnya mulai dari perwakilan pemerintah daerah di Kalimantan, NGO yang peduli budaya dan lingkungan, tokoh masyarakat, media, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kalimantan dengan komitmen dan program CSR yang kongkrit, dll. Acaranya berlangsung malam hari pada tanggal 13 Desember 2009. Memang acara ini kemudian menjadi acara yang kapasitasnya terbatas. Tapi DYC tetap ingin publik dapat mengunjungi Goethe Haus pada hari itu dan mengenal budaya Dayak secara lebih baik. Makanya selama dua hari, 13 Desember 2009 (pukul 16.00 – 20.00 WIB) dan 14 Desember 2009 (pukul 10.00 – 18.00 WIB), Goethe Haus membuka selasarnya menjadi jendela dan pintu untuk melihat dan memasuki budaya Dayak yang indah dan unik lewat: - Pameran Foto - Demo tato tradisional Dayak, tetap bersama Durga Tattoo. - Demo memanik (membuat kerajinan tangan khas Dayak dari manik-manik) - Pameran dan bazaar kerajinan tangan khas Dayak (anyaman rotan, tenun dan manik-manik). Di Pameran Foto bisa disaksikan foto-foto yang menceritakan bagaimana upacara adat pernikahan dengan cara Dayak Ma'anyan. Wah, saya ingin melihatnya! Karena saya sendiri berasal dari suku Ma'anyan :-). Koleksi foto ini dihasilkan oleh seorang antropolog muda, Rani Djandam, yang juga seorang fotografer. Ingin mengetahui bagaimana orang Dayak memandang dirinya dan budayanya sendiri? Perspektif mereka bisa dilihat dari foto-foto hasil karya mereka melalui program Photovoices Labian-Leboyan (di sekitar Taman Nasional Danau Sentarum) di Kalimantan Barat. Fotografer lokal yang berprofesi sebagai petani, nelayan, ibu rumah tangga, mereka yang tua dan muda mengabadikan kebanggaan, kerinduan, keluhan dan harapan mereka melalui karya fotografi yang tidak kalah indahnya, dari sebuah kamera saku, yang mereka pelajari dan mereka bawa selama 6 bulan saat mereka beraktivitas. Para fotografer muda dari kalangan pelajar SMA dan mahasiswa yang foto-fotonya termasuk dalam 25 foto terpilih hasil dari Lomba Rally Fotografi “A Day With Dayak”, pasti bangga karena foto-foto tersebut akan dipamerkan pada event "A Night with Dayak" ini. Terima kasih fotografer muda! Kalian telah menjadi bagian dari gerakan pelestarian budaya Dayak. Tak ketinggalan, foto-foto mengenai masyarakat Dayak, baik kehidupan mereka saat ini (karya fotografer undangan) maupun koleksi foto kehidupan di masa lalu (koleksi sanggar Tingang Madaang) akan menjadi bagian yang tak kalah pentingnya dari keseluruhan Pameran Foto Dayak di Goethe Haus. Jadi, bagaimana menurutmu Dayak itu? Datang ke Goethe Haus 13-14 Desember 2009, bisa jadi sebuah pilihan baik untuk mengenal Dayak, kalau masih belum memungkinkan untuk mengunjunginya di pulau ketiga terbesar di dunia ini, Borneo :-) Lihat jadwalnya dan jadi sahabat DYC! Facebook Group: Dayak Youth Community website: http://dayakyouthcommunity.org Kita jadi seperti 'jembatan' yuk, biar makin banyak yang kenal Dayak secara lebih baik :-). Mungkin bisa dimulai dengan menggulirkan note ini ke teman, sahabat dan keluarga yang tertarik. Sampai bertemu di Goethe Haus! N'O'A
Bookmark with:
|