|
There are no translations available.
Tidak semua orang bisa berkarya, jika sudah lanjut usia. Tapi, lain halnya dengan Kurnia Untel. Meski telah berumur 70 tahun, tetap eksis menciptakan dan melantunkan lagu-lagu karungut dalam bahasa Dayak Ngaju, Indonesia, Banjar, bahkan Bahasa Inggris. Alunan nada mendayu-dayu mengiringi lirik berisi pembangunan, perkembangan, dan hikayat perjuangan masyarakat Dayak terdengar jelas, Rabu (20/10) siang. Bermodal kecapi dan kosakata yang dirangkai kalimat sastra Dayak, Kurnia membawakan sebuah lagu karungut ciptaan sendiri, di rumahnya, di Kota Muara Teweh, Barito Utara. Melalui hasil karyanya, sastrawan andal, pensiunan PNS di lingkup Dinas Pendidikan bidang Penilik Kebudayaan ini, bahkan pernah menginjakkan kaki di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Waktu itu tahun 1996, Kurnia diundang tampil membawakan lagu karungut di depan mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Karena memukau tampil dalam pagelaran karungut empat tahun lalu itu, pria asal Desa Dadahup, Kabupaten Kapuas ini dinobatkan sebagai Anggota Sastawan Seluruh Indonesia (ISASI) untuk wilayah Kalimantan Tengah. “Supaya kebudayaan daerah kita, terutama lagu karungut dikenal seluruh nusantara, saya nekat pergi ke TMII tanpa dibiayai pemerintah. Alhasil, di hadapan ribuan mahasiswa IKJ lagu karungut ciptaan saya bisa diperdengarkan, meski sempat grogi,” ujar Kurnia ketika dijumpai Tabengan. Ayah tiri mantan Sekretaris Dewan Barut Ardian Kardi ini mengisahkan, mulai melantunkan lagu karungut sejak tahun 1963, karena sering mengikuti orangtua hadir dalam upacara adat Dayak Ngaju. Hingga sekarang, pasangan dari ibu Fatma ini, sudah menghasilkan empat jilid buku lagu karungut. “Itu yang tersurat, belum lagi yang dilantunkan secara spontan, menyesuaikan kegiatan. Misalnya, upacara pertemuan pejabat di Rumah Jabatan Bupati Barut, acara kawin, bahkan saat kampanye pasangan calon bupati pun, lagu karungut diciptakan secara spontan,” terangnya. Ke depan, sastrawan Kalteng yang sudah malang-melintang di Bumi Iya Mulik Bengkang Turan ini berharap, pemerintah daerah, baik Provinsi Kalteng maupun Kabupaten Barut supaya bisa melestarikan sastra lisan. Misalnya, tatum, sansana, tumetleot, dan karungut. Keempatnya adalah sastra lisan dari subsuku Dayak Ot Danum, Kapuas, Ma\'anyan, dan Ngaju. Bahkan, sastra lisan yang menjadi kebanggaan masyarakat di Kalteng bisa dimasukkan dalam pelajaran muatan lokal di sekolah. Tujuannya, supaya generasi muda bisa meneruskan warisan nenek moyang yang sudah menjadi tradisi turun-temurun untuk mendengarkan sastra daerah ini. Jangan sampai kalah oleh budaya barat yang bukan berasal dari turunan para tetua terdahulu. “Kebanyakan para pemuda lebih suka meniru gaya barat, padahal kesenian daerah kita sangat unik dipertontonkan. Lihat saja, wisatawan di Bali, mereka mengagumi budaya setempat. Saya harap begitu juga dengan daerah Kalteng bisa terkenal di mancanegara,” kata Kurnia. ethomihi
Dari: media.hariantabengan.com

Bookmark with:
|