|
There are no translations available.
Hari Selasa 7 Desember 2010 yang bertepatan dengan tahun baru Islam, di anjungan Kalimantan Barat Taman Mini Indonesia Indah diadakan pameran lukisan oleh para perupa dari Kalimantan. Komunitas ini menamakan diri Komunitas Perupa Kalimantan yang terbentuk atas dasar kesamaan tanah kelahiran, budaya, profesi dan cita-cita. Kesamaan-kesamaan ini menjadi pengikat bagi para perupa Kalimantan baik yang berada di Kalimantan maupun di luar Kalimantan untuk saling bahu membahu, menghimpun seluruh tenaga dan daya untuk mewujudkan cita-cita bersama “Kalimantan Jaya”.
Pameran ini diadakan dari tanggal 7 sampai dengan 12 Desember 2010, menghadirkan karya 11 orang perupa yang dipamerkan di teras rumah Melayu anjungan Kalimantan Barat TMII. Pameran ini adalah yang kedua kalinya diadakan di Jakarta, sebelumnya diadakan di Taman Ismail Marzuki pada 25 November 2009.
Acara pembukaan pameran dimulai pukul 14.50, sedikit terlambat dari yang dijadwalkan. Acara dibuka oleh pembawa acara dari anjungan Kalimantan Barat, Bpk Juki. Dilanjutkan dengan kata sambutan dari ketua panitia, Bpk M. Husni Thambrin – seorang perupa dari Kalimantan Selatan. Dalam kata sambutannya ini Pak Husni menjelaskan asal muasal komunitas ini dan harapannya ke depan untuk lebih mengembangkan seni rupa di Kalimantan. Selanjutnya adalah sambutan dan pembukaan oleh Bpk Drs. Difriadi Darjat, wakil bupati Kabupaten Tanah Bumbu di Kalimantan Selatan.
Sebagai perupa, Pak Husni juga memamerkan karyanya, sebuah lukisan berjudul Asa Yang Tersisa dengan media cat minyak di kanvas. Lukisan ini menggambarkan sebuah kapal motor (kelotok) yang langsung dikenali oleh Bpk Difriadi pada saat melihatnya. Pak Difriadi menjadi teringat akan masa kecilnya di Sungai Barito. Hal ini menggambarkan kreatifitas perupa Kalimantan terpengaruh oleh keadaan sekitar. Terlihat juga dalam karya lain yang menggambarkan budaya Kalimantan yang kaya juga hutan yang melingkupi sebagian besar wilayah Kalimantan. Selain sebagai objek, beberapa lukisan bahan pembuatnya pun menggunakan bahan khas dari Kalimantan, kulit kayu.
Selain melibatkan orang yang memang berprofesi atau minat besar pada lukisan, lukisan yang dipamerkan ada juga yang dibuat oleh anak-anak TK dan masyarakat lain beramai-ramai dengan sketsa yang dibuat oleh Yohanes, salah 1 perupa yang memamerkan karyanya. Hasilnya antara lain figur mantan presiden kita Abdurrahman Wahid atau yang biasa dikenal dengan Gus Dur. Karya ini nantinya akan diberikan pada keluarga Alm Gus Dur sebagai kenang-kenangan.
Untuk melengkapi informasi tentang perupa dan karyanya, pameran ini juga dilengkapi dengan katalog berwarna setebal 11 halaman. Tidak semua karya yang dipamerkan ada dalam katalog ini. Eugene Yohanes Palaunsoeka yang biasa dipanggil Anes memamerkan 2 karyanya yang baru dibuat di bulan Desember 2010 ini. Untuk lebih bisa mengapresiasi karya para perupa Kalimantan itu, teman-teman semua diundang untuk hadir pada pameran kali ini dan yang akan datang. <Sylvana Toemon>

Bookmark with:
|