|
There are no translations available.
Di akhir tahun 2009 yang lalu, Dayak Youth Community (DYC) telah menyelenggarakan serangkaian project event yang terdiri dari dua kegiatan yaitu “A Day with Dayak”“A Night with Dayak” dan yang digelar secara terpisah. Tujuan dari dua kegiatan tersebut secara umum selain untuk peluncuran kembali organisasi Komunitas Muda Dayak (yang sejatinya telah didirikan sejak tahun 2002 yang lalu) dan mensosialisasikan rencana program kerja DYC 2010-2011, DYC juga ingin menjaring lebih banyak para kawula muda baik Dayak maupun Non Dayak sebagai sahabat DYC di seputaran Jakarta yang berminat pada budaya Dayak dan ingin terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh DYC. Dengan mengusung tema besar “Preserve Our Culture and Nature”, diharapkan melalui rangkaian kegiatan ini semakin banyak masyarakat, khususnya publik yang berada di luar pulau Kalimantan dapat tergugah kepeduliannya terhadap pelestarian dan pengembangan alam dan budaya suku Dayak.
"A Day with Dayak” Kegiatan “A Day with Dayak” digelar pada hari Minggu, 22 November 2010 bertempat di Rumah Panjang anjungan Propinsi Kalimantan Barat, Taman Mini Indonesia Indah. Selama sehari penuh, pengunjung yang datang silih berganti selain menyaksikan juga dapat berinteraksi langsung dengan berbagai aktifitas yang mengusung keberagaman seni budaya Dayak dan lingkungannya. Dengan konsep ingin mendekatkan dengan suasana kampung Dayak kepada publik Jakarta, berbagai acara dirancang dengan membuat pengunjung tidak hanya menjadi penonton melainkan dapat menjadi bagian dari keseluruhan aktifitas hari itu.

Upacara Adat Potong Pantak Seperti lazimnya penyambutan tamu di kampung –kampung Dayak sebelum memulai suatu upacara adat, DYC pun mencoba merekonstruksikan adat warisan nenek moyang ini dengan menggelar upacara adat pemotongan kayu (tebu) penghalang atau Potong Pantak sebagai simbol patahnya putusnya rintangan dan tanda diterimanya para tamu oleh tuan rumah. Berhubung kali ini yang menjadi tuan rumah adalah wilayah Kalimantan Barat, maka rangkaian upacara menggunakan adat yang merepresentasikan umumnya suku Dayak yang ada di wilayah tersebut. Dimulai dengan tabuhan Tu’vung atau gendang raksasa yang dipukul oleh Bona dari Sanggar Dango Katulistiwa dari atas ketinggian sekitar 20 meter dari tanah, diiringi semarak bunyi-bunyian berbagai alat musik tradisional Dayak yang berasal dari teras rumah panjang, barisan tuan rumah siap menyambut para tamu yang hadir pagi itu. Sebelum tamu memasuki area tuan rumah, salah satu perwakilannya menyumpit ke arah bubungan rumah sebagai tanda kedatangan para tamu, kemudian pelemparan beras kuning dan uang logam sebagai simbol permohonan berkah dan terakhir tamu dan tuan rumah bersama-sama menikmati “Tuak” atau minuman tradisional Dayak yang difermentasikan.
DYC sebagai tuan rumah acara ini dipimpin oleh Sintha Dj. Assan (Ketua Umum DYC) dan Gregorio Leo Oendoen (Ketua Bidang Program), didampingi oleh seluruh pendukung acara yang mengenakan beragam baju adat suku Dayak dari berbagai propinsi Kalimantan.
Live Demonstration - Hand Tapping Tattoo dan Memanik
Bekerjasama dengan Durga Tattoo Studio, DYC menggelar live demonstration hand tapping tattoo atau menato dengan cara tradisional menggunakan jarum yang diikat pada bilah bambu dan dilakukan dengan ketukan tangan mengikuti alur “mal” atau cetakan yang terlebih dulu di-cap-kan pada badan yang di tato. Melalui demo hand tapping ini, DYC ingin mengangkat kembali sebuah warisan tradisi milik suku Dayak, khususnya di tradisi seni rupa yang telah dilakukan sejak ratusan tahun lalu dimana tato kembali menjadi trend di jaman sekarang. Bagi suku Dayak, secara tradisional tato dibuat untuk tujuan spiritual, sehingga sebelum prosesnya dimulai dilakukan beberapa ritual tersendiri . Menurut kepercayaan tradisi tato (atau tutang) akan bercahaya di alam baka dan membuat siapapun mengenakannya dikenali oleh para leluhur yang akan membawanya bersama-sama ke alam surga. Semakin hitam tato, semakin bercahaya ia di alam baka yang serba gelap. Karena itu secara teknis pencapaian, tingkat kehitaman tato dengan menggunakan teknik hand tapping ini jauh lebih baik ketimbang menggunakan mesin. Motif-motif seperti naga dan burung enggang di beberapa sub suku Dayak khusus diperuntukkan bagi kalangan bangsawan, bunga terung sebagai lambang bagi para ksatria, sedangkan untuk masyarakat kebanyakan biasanya menggunakan motif manusia, akar-akaran/sulur maupun anjing (melambangkan kesetiaan dan penjaga).
Dalam demo hand tapping ini, Durga dibantu oleh seorang asisten yang bertugas mengencangkan permukaan kulit (skin stretcher) agar jarum tidak menancap dalam. Tato yang dibuat di bagian paha ini diselesaikan selama lebih kurang 5 jam ini mengambil motif traditional anjing dari Dayak Kayan. Cukup mengesankan, sang model, Delano, yang juga pemain basket tim nasional ini terlihat anteng dan tenang selama proses tato berlangsung. Disepanjang acara juga digelar demo memanik oleh Ibu Jos Ibau, asal Dayak Bahau. Kerajinan manik adalah salah satu ciri khas yang dimiliki oleh suku Dayak. Di Jakarta, umumnya anak-anak muda, khususnya generasi muda Dayak tidak lagi mengenal manik-manik dan cara pembuatannya. Kehidupan kota besar yang serba instant dan cepat berbanding terbalik dengan memanik yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi. Namun menariknya, selama demo berlangsung tampak beberapa anak muda yang ikut duduk dan memanik bersama Ibu Jos.
Tari dan Musik Traditional
Dengan mengambil konsep filosofi interaksi sosial di rumah panjang orang Dayak, di mana satu kampung berkumpul bersama di usei (teras), kali ini panitia sengaja membuat setting pertunjukan yang berbeda. Dengan tujuan agar para pengunjung pun dapat berbaur dan tak berjarak dengan para penari dan pemusik, maka seluruh pertunjukan di gelar di selasar yang terletak di lantai dua rumah panjang agar ambience atau suasana kehidupan orang Dayak dapat turut dirasakan. Duduk selonjor membentuk setengah lingkaran mengelilingi para penari di lantai dan menghirup aroma khas kayu ulin ketika menikmati tarian demi tarian tentunya membawa kesan tersendiri bagi para pengunjung. Bekerja sama dengan sejumlah sanggar seni Dayak lintas propinsi Kalimantan yang ada di Jakarta (Nan Sarunai, Dango Kathulistiwa, Tingang Madaang), acara yang berlangsung sekitar 1 jam ini mempertunjukan 6 tarian Dayak khas dari tiap propinsi (Tari Mandau dan Gong dari Kalimantan Timur, Tari bahuma, Bahanyi dan Bagawe dari Kalimantan Barat serta Tari Bahalai dan Iruang Wundrung/Dadas-Bawo dari Kalimantan Tengah).
Festival Kuliner Kalimantan, Bazaar Kerajinan, Photo dan Tattoo Corner, Pameran Fotografi, Bazaar Kerajinan Beberapa kegiatan yang sifatnya “fun” di mana pengunjung bisa langsung terlibat juga digelar. Di halaman utama anjungan tersedia berbagai aneka penganan khas Kalimantan, mulai dari masakan Dayak, Chinese, atau pun Melayu seperti soto Banjar, nasi kuning, ikan bakar patin, juhu atau semcam sayur dari umbut kelapa atau umbut rotan, pakis, daun singkong tumbuk, daun pepaya dan sayur daun kedondong, bakso gepeng has Tiociu, pisang goreng sarikaya dan banyak lagi. Jika pada awalnya panitia dan para Selain tato tradisional, juga dibuka stand tato modern, di mana pengunjung bisa memiliki kenang-kenangan dari acara ini, yaitu dibuatkan tato dengan berbagai motif Dayak. Pengunjung dari berbagai usia ini pun rela mengantri untuk ditato temporer maupun permanen. Panitia juga menyediakan stand photo corner, dimana para pengunjung bisa membawa kenangan lain dari event ini, yaitu berfoto dengan mengenakan baju adat Dayak dengan mengambil latar belakang sudut-sudut rumah panjang.
Untuk mengajak public Jakarta mengenal Dayak lebih jauh, sanggar Tingang Madang meminjamkan koleksi reproduksi foto-foto tua mengenai kehidupan masyarakat Dayak di masa lalu untuk dipamerkan. Tidak itu saja, setiap foto pun diberi keterangan mengenai peristiwa yang tergambar di foto tersebut sehingga pengunjung pun dapat mendapat gambaran bagaimana kehidupan orang Dayak dulu dan yang disaksikan di hari itu. Selain itu Dinas Pariwisata Propinsi Kalimantan Barat pun tidak ketinggalan dalam mempromosikan wisata budaya daerahnya melalui pameran foto yang secara khusus telah dipersiapkan untuk event ini. Foto-foto ini pun membantu pengunjung untuk lebih mengenal sebagian dari budaya Dayak yang ada di Kalimantan dan masih bisa dikunjungi hingga saat ini. Suku Dayak terkenal dengan kerajinannya. Berbagai hasil kerajinan rotan, manik-manik, getah karet, batu-batuan, tenun ikat, ukiran kayu turut dipamerkan dalam event ini. Mulai dari barang-barang koleksi tua, sampai kerajinan untuk daily fashion pun dipamerkan dan dijual.
Lomba Rally Fotografi Salah satu misi DYC melalui event ini adalah menjaring minat sebanyak mungkin anak muda yang ada di Jakarta khususnya terhadap budaya Dayak. Apakah itu anak muda Dayak sendiri maupun non Dayak. Salah satu strateginya adalah menggunakan media Fotografi yang sangat akrab dengan dunia anak-anak muda saat ini sebagai media untuk memperkenalkan budaya Dayak kepada mereka. Lomba Rally Fotografi pun digelar khusus untuk pelajar SMA dan Mahasiswa se Jakarta dan sekitarnya, dan memperebutkan total hadiah sebesar 10 juta rupiah. Yang membedakan Rally Fotografi ini dengan lomba sejenis lainnya adalah isi dan bentuk kegiatannya. Selama setengah hari para fotografer muda ini diajak hunting ke tiga anjungan Kalimantan (Timur-Tengah-Barat), dibagi ke dalam kelompok-kelompok dan tiap kelompok didampingi oleh dua orang “Local Guide”. Para local guide merupakan volunteer yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa Dayak yang ada di Jakarta. Selama 1 minggu sebelum pelaksanaan event, mereka telah diberi bahan informasi untuk memahami simbol-simbol budaya Dayak (makna dan bentuknya) yang bisa ditemui di tiga anjungan Kalimantan tersebut. Tidak hanya itu, dengan dibimbing langsung oleh Rani Djandam, Antropolog muda Dayak yang juga Program Manager DYC, para local guide ini juga dilatih bagaimana menjelaskan berbagai informasi tersebut kepada para peserta, seperti layaknya seorang guide yang membantu rombongan. Dengan demikian transfer pengetahuan mengenai sebagian kecil dari budaya Dayak ini pun bisa berlangsung melalui event ini. Para fotografer muda, yang terdiri dari pelajar SMA dan Mahasiswa dari Jakarta dan Bandung ini, tidak hanya mendapatkan berbagai subyek fotografi yang menarik namun juga menambah pengetahuan mereka mengenai budaya Dayak itu sendiri. Selama lomba berlangsung mereka wajib mengenakan kaos peserta yang bertuliskan, “A Day with Dayak…and I’m the Photographer”. Para dewan juri yaitu Bapak Tantyo Bangun (Pemimpin Redaksi Majalah National Geographic Indonesia), Bapak Ananda Idris (Fotografer Amatir Senior) dan Rani Djandam, memilih 25 foto pilihan dan 5 foto terbaik dari lebih kurang 150-an foto yang terkumpul hari itu.
Diskusi Fotografi dan Budaya Dayak
Keseluruhan event hari itu ditutup dengan sessie diskusi. Ketiga dewan juri lomba rally fotografi membagikan pengetahuan dan pengalamannya masing-masing kepada para pengunjung. Dibuka oleh Rani Djandam sebagai pembicara pertama mengajak para peserta untuk mengenal lebih dekat siapa itu suku Dayak, kebudayaannya dan gambaran kehidupannya di masa lalu dan masa kini. Dimulai dari mengenal darimana dan bagaimana istilah “Dayak” itu sendiri dimunculkan, identitas budaya orang Dayak dan seperti apa pola kehidupannya, serta pergeseran makna dan stigmatisasi terhadap orang Dayak di masa jaman colonial dan paska colonial. Selain memiliki latar belakang pendidikan Antropologi, Rani yang juga pernah mendapat pendidikan formal di bidang Fotografi (etno fotografi), dan pada sessie ini berbagi mengenai apa itu Antropologi Visual dan bagaimana visual sangat berguna sebagai tools yang efektif sebagai pendekatan dalam menggali dan menginformasikan data dalam penelitian etnografis.
Pembicara kedua, Bapak Ananda Idris berbagi pengalamannya sebagai seorang hobbyist. Dunia fotografi mulai dikenalnya sejak duduk di bangku kelas 2 SMP, dan melalui fotografi wawasannya terhadap dunia di luar dirinya bisa dimaknai dengan cara yang berbeda. Kepada para pengunjung, Bapak Ananda berbagi pengalaman bagaimana ia terlatih melihat hal-hal yang unik di sekelilingnya melalui jendela rana kamera. Ia yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di Eropa dan telah melihat banyak hal dan keberagaman budaya di dunia ini berpesan kepada para fotografer muda bahwa gemar fotografi membuat kita tidak saja melihat banyak hal, namun juga kita bisa memaknai apa yang kita lihat dengan membagikannya lewat karya kita pada orang lain.
Bapak Tantyo Bangun tampil sebagai pembicara terakhir. Saat itu ia masih menjabat sebagai Pemimpin Redaksi majalah National Geographic Indonesia. Selain berbagi pengalaman ketika memotret di lapangan, khususnya untuk fotorgrafi “wild” and “nature”, ia juga memberikan tips bagaimana sebuah foto bisa bercerita banyak. Melengkapi presentasinya, Bapak Tantyo menampilkan serial fotografi karyanya selama beberapa tahun terakhir yang ia capture di berbagai tempat di pulau Kalimantan.
Diskusi ditutup dengan menayangkan 25 foto terpilih dan untuk 5 juara terbaik diumumkan terpisah pada acara "A Night With Dayak".
Bookmark with:
|