|
There are no translations available.
Pada hari minggu tanggal 18 Juli 2010 yang lalu, di anjungan Kalimantan Timur TMII diadakan pentas seni dari Kabupaten Tana Tidung. Pertunjukan yang disajikan adalah Upacara Adat Tepung Tawar Suku Tidung dan Upacara Adat Pengobatan Suku Dayak Bulusu. Suku Tidung dan Suku Dayak Bulusu adalah 2 suku yang mendiami Kabupaten Tana Tidung yang terletak di utara Kalimantan Timur.
Pembukaan Acara
Acara ini dijadwalkan mulai di pukul 10.00 tetapi pada saat itu kursi undangan belumlah terisi penuh. Masih banyak kursi berbungkus kain putih yang kosong beberapa saat lamanya. Mobil yang berlalu-lalang di minggu ini tidak semuanya membawa para undangan. Sedikit demi sedikit hadirin tiba di lokasi acara. Sebagian besar dari kedutaan negara sahabat. Beberapa bule terlihat memakai batik.
Pembukaan diawali dengan musik perpaduan alat musik tabuh, petik dan gesek. Musik yang dibawakan terpengaruh oleh musik melayu. Musik dimainkan oleh 7 orang pemusik tabuh, 2 orang memainkan alat musik petik dan 1 orang memainkan biola. Sesekali seorang penyanyi melantunkan tembang sembari menunggu lengkapnya para undangan.
Setalah para undangan hadir sekitar 50% dilanjutkan dengan tarian 7 Putri oleh Suku Tidung. Tarian ini dibawakan oleh 7 orang penari cantik dengan baju berwarna emas, berambut panjang tergerai dengan berhiaskan melati. Ketujuh penari bergerak gemulai memenuhi panggung bersama seorang penari pria yang tampaknya menjadi bintang di antara ke-7 penari . Tarian ini sedikit mengingatkan pada legenda Jaka Tarub dan 7 bidadarinya.
Acara pembukaan dilanjutkan oleh tarian yang menggambarkan kehidupan sehai-hari Suku Dayak Belusu. Tarian ini dibawakan oleh 3 orang penari yang tampaknya berperan sebagai bapak, ibu dan anak. Tarian diawali oleh seorang lelaki dewasa dengan perlengkapan berburunya: sumpit, mandau dan backpack ala Dayak yang terbuat dari anyaman rotan. Sang penari menari dengan gemulai tanpa kehilangan kemachoannya.
“Woooowwww” seru para hadirin sambil bertepuk tangan menyaksikan demonstrasi menyumpit yang dibawakan sang penari. Sumpitannya tepat mengenai sebuah balon yang ditempelkan di sudut kanan atas panggung.
Sementara itu sang ibu sibuk menginang, kebiasaan yang ada di sebagian besar wialayh Nusantara. Ibu itu melakukan kegiatannya . Ibu ini berpakaian seperti wanita desa pada umumnya, sederhana dan menggunakan caping.
Sang anak yang bertampang ‘Dayak banget’ bermain dengan tarian indah di sekitar ibunya. (Pernyataan ini sebenarnya adalah opini subyektif dari penulis yang langsung mengidentifikasi tanpa mengendus-endus seperti yang didesas-desuskan itu)
Upacara Adat Pengobatan Suku Dayak Bulusu
Upacara ini disajikan dalm bentuk tarian kepada para hadirin. Suasana mistis terasa ketika seorang pria tua yang keluar ke atas panggung didampingi oleh 4 orang perempuan yang membawakan 4 mangkok tanah liat. Pria tua ini menjadi sentral dari tarian yang menggambarkan upacara pengobatan ini.
Tarian keempat wanita bergelang kaki dari logam itu tetap berlanjut ketika si pria tua telah meninggalkan panggung.
Tarian Penyambutan Tamu dan Tarian Perang
Tarian ini dibawakan oleh 4 orang pria berpakaian tradisional Dayak Bulusu ayng bergerak dinamis di atas panggung. Keempat pria itu memakai rompi berhiaskan bulu burung enggang, topi yang berhias bulu burung enggang menjulang serta membawa Mandau dan perisai.
Setelah tarian penyambutan, keempat pria yang sama menarikan tarian perang. Sebagai pria Dayak, mereka memang harus menjaga keamanan dan membela komunitasnya dari orang yang berniat mengganggu. Sementara para pria berperang, para wanita tetap tinggal dengan menari membunyikan gelang kakinya.
Fashion Show dan Penutupan
Acara dilanjutkan dengan fashion show yang menunjukkan pakaian pengantin dari Suku Tidung dan Dayak Belusu, juga pakaian untuk sehari-harinya. Pakaian pengantin dari suku Tidung berwarna cerah dengan pengantin wanita menggunakan kerudung.
Sebagai penutup, disajikanlah tarian Jepen / Japin oleh 4 orang pria wanita berpasangan. Pasangan ini berpakaian biru dan pink cerah dan bergerak sangat dinamis sehingga mengundang decak kagum para undangan.
Semakin lama acara ini berlangsung, kursi-kursi berbungkus kain putih di bawah tenda itu semakin penuh, sebagian oleh anak-anak kecil yang sepertinya duduk di bangku SD. Apakah mereka datang karena berminat akan kebudayaan Kalimantan? Ternyata tidak juga.
“Bagus gak tariannya?” Tanya penulis kepada seorang anak kecil yang nyempil di sebelahnya.
“..…..” anak kecil berbaju warna orange bertulisan Jakmania itu hanya terdiam sambil memasang tampang bengong. Tampang bengong yang hampir sama juga ditampilkan oleh teman di sebelahnya.
“Hadirin dipersilakan mencicipi makanan yang telah disediakan” MC mengumumkan dari panggung.
“Hoho….ternyata ini daya tarik kedatangan anak-anak kecil itu ke tempat ini” bisik salah 1 wakil dari komunitas kita ini ke orang di sebelahnya.
Sementara meja makan dikerumuni oleh orang-orang yang berniat makan, di panggung diadakan sesi foto bersama oleh semua pendukung acara dan duta besar yang datang.
Bookmark with:
|