|
There are no translations available.
Mau ikut?? Hehe. Silakan saja, pikirku ketika ada teman yang mau ikutan pulang ke Palangka Raya. Emang beneran? Kayanya enggak deh, pikirku. Apalagi masih bulan puasa. Makanya, segera aja kubuat Explore Palangka Raya, yang berupa perjalanan ala backpacker, tapi masih belum mengira ada yang mau ikutan. Eh, ternyata responnya lumayan, ada 7 orang teman yang mau ikutan, dan yang 4 orang aku gak pernah kenal malah, hehe. Tapi keseriusan mereka ditunjukkan dengan memesan tiket PP Jakarta Palangka Raya. Wah, segeralah aku menyusun jadwal dan tempat tempat yang akan dikunjungi.
Setelah bertemu di bandara Soeta, kami berangkat dengan Lion Air, karena penerbangan malam, masih sempat setelah kerja. Sampai di Palangka, langsung menuju ke rumah. Semua mau menginap di rumah aja, gak usah di hotel katanya. Karena bersedia sih diterima saja, meski kondisi rumah yang sederhana dan unik, hehe. Setelah sampai, kami mengobrol dulu, baru makan malam. Sekitar jam 1 semua sudah pulas tertidur.
Hari pertama Ketika waktu sahur, bangun untuk membangunkan teman-teman yang berpuasa, terus tidur lagi, hehe. Pagi harinya kami pergi ke Sungai Gohong, tempat pelepasan satwa di Kecamatan Bukit Batu, masih di Palangka Raya yang berjarak satu jam perjalanan dari Palangka. Peserta yang ikutan adalah Ivan, Hepi, Dian, Tanti, Rasti,Angga, Theus, dan Sherly. Oh, iya, dan saya sendiri, hehe. Disana kami bergabung bersama rombongan Lia dan Othe, kawan di DYC, yang lagi berkunjung ke Palangka Raya juga. Kami naik satu alkon aja lho, ber 24 orang, hehe. Tau nggak alkon? Perahu bermesin, tapi lebih besar dari kelotok. Tujuan utama, melihat orangutan di alam bebas!! Seru kan?? Seru, tapi takut juga melihat orang utan yang besar besar, bertengger di pohon rangas. Takut, karena sering dikatakan bahwa orang utan bisa menculik dan membawa manusia ke dalam hutan!! Bener atau ga, ga tau deh. Tapi banyak yang membenarkan. Selain orang utan ada juga monyet dan bekantan. Itu lho, yang ada di logonya Dufan.
Pulang dari sini kami mampir ke taman alam, menumpang makan siang. Kembali kami bersama dengan Rombongan Othe dan Lia. Malah, kami diberi semangka satu biji lho. Segar deh, siang-siang makan siang. Habis makan kami melihat satwa, ada monyet, rakun, landak, dan kasuari, juga ada buaya. Buaya ini udah lama disini, sejak aku SD sudah ada, jadi paling nggak udah 20 tahun umurnya. Setelah itu kami menuju ke Bukit Doa Karmel, yang masih berada di jajaran Bukit Tangkiling. Setelah meinta izin, kami ber sembilan mengikuti seluruh jalan Salib, kemulidian berdoa di Goa Maria di atas, sambil melihat pemandangan dari atas bukit. Lumayan kelihatan, hutan semua….hehe. Sambil melihat pemandangan kami berdoa di atas bukit, mengajukan pujian dan permohonan kepada Yang Maha Kuasa.
Sudah sore, maka kami pulang ke daerah Flamboyan, dimana ada pasar wadai. Pasar wadai ini adalah pasar khusus makanan Ramadhan, yang kebanyakan berupa makanan khas Kalimantan, yang aneh aneh namun membuat tertarik teman teman. Kebanyakan adalah jenis kue talam dan minuman segar, namun dimodifikasi dengan selera Kalimantan. Maka kami membeli beberapa makanan yang tampaknya enak, meski ada beberapa makanan yang kurang cocok dengan selera, namun terpuaskan karena sudah mencoba saat berbuka. Makanan yang dimasak mamah pun akhirnya agak malam baru kami makan, karena kekenyangan, hehe.
Hari kedua Kembali membangunkan teman teman buat sahur. Tapi habis itu aku nggak tidur lagi, karena berhubung hari Minggu mau ibadah dulu, masih sempat sebelum jalan. . Setelah ibadah, jalan2 sebentar mengitari kota. Sekitar jam 10 kami berangkat ke Bukit Tangkiling, hiking mengitari bukit. Wah, cape juga, sekitar sejam perjalalan, namun terbayarkan ketika tiba di atas bukit. Pemandangan Palangka Raya terhampar luas dari titik tertinggi di kota Palangka Raya ini. Kami turun melalui jalan lain, melewati padang ilalang dan sebuah batu besar yang bertumpuk di atas batu-batu kecil. Ada juga sebuah pura, yang cukup menarik untuk dilihat. Sayang, sedang tidak ada upacara yang sedang dilakukan. Di kaki bukit ini, ada beberapa rumah-rumahan kecil yang dijadikan tempat sesajen, berdampingan dengan Batu Banama, sebuah batu besar mirip perahu. Rumah kecil ini disebut Pasah Patahu, tempat menyimpan sesajen dalam agama Kaharingan (agama asli suku Dayak).
Lalu kami menuju ke Arboretum, Nyaru Menteng untuk sholat. Sayang, hari hujan. BOS Nyaru Menteng sudah tutup. Jadi kami tidak sempat mampir ke tempat rehabilitasi orang utan. Maka kami ke Danau Tahai saja, mengadakan foto session saja di pinggir danau, diatas titian-titian kayu (mungkin seperti di pulau Tidung).
Kami lalu pulang, tidak lupa membeli jajanan dan tajil di Pasar Kahayan. Alangkah nikmatnya minum es dan makan gorengan setelah cape dan berpanas-panasan….^^. Kami makan malam dengan menu ikan dan sayur rotan, hehe. Rotan dimakan?? Hehe, coba aja bayangin makan kursi =p. Gak semua bisa makan, tapi ada juga yang doyan.
Hari Ketiga Kembali membangunkan yang sahur, tapi kembali tidur lagi, hehe. Pagi ini kami berangkat ke pasar subuh. Nggak semua sih, cuma berenam dengan papah, hehe. Namanya sih pasar subuh, namun akhirnya ½ 7 baru kami berangkat ke pasar induk. Baru masuk pasar, waaaauuu…….. udang galah besar tersaji di depan mata kami. Setelah rundingan, maka kami beli 2 ½ kilo. Hm…… kebayang kan?? Banyak juga ikan yang sedang jarang ditemui, di pasar sedang ada hari itu. Lais, saluang, pantik, manjuhan(jelawat), papuyu(betik), kakapar, patung, behau(gabus), tahuman(toman), juga belida (pipih). Namun, akhirnya nila yang kami beli, karena ikan ini yang pasuntuk dibakar. Tapi ada juga teman-teman yang membeli udang, saluang dan lais untuk dibawa ke Jakarta. Wah??
Jam 10 kami berangkat ke Musem Balanga, Palangka Raya. Wah, jadi malu. Sering pergi kemana-mana, tapi ini baru ketiga kalinya menginjakkan kaki di museum ini, itupun terakhir waktu aku SD. Di pos depan, dibagikan brosur tentang Tjilik Riwut. Teman-teman terkesan. Wah, nanti kapan-kapan kukenalin sama cucunya, hehe.
Berbagai macam peralatan yang berhubungan dengan prosesi yang ada dalam masyarakat Dayak disajikan disini. Pemandu yang mendampingi kami juga menjelaskan dengan gamblang, keren deh. Mulai dari kehamilan, kelahiran, beranjak dewasa, lamaran, pernikahan, peperangan, kematian, Tiwah, perkebunan, perikanan, dan lain-lain deh pokoknya. Semua dalam budaya Dayak yang masih memegang agama Kaharingan, kepercayaan asli suku Dayak. Gak kerasa sudah 4 jam kami disitu, sampai melewati jam kunjung museum. Maka ½ 3 kami pamit pulang.
Setelah makan siang, melalui perundingan maka akhirnya diputuskan untuk membeli cinderamata dan oleh-oleh saja. Maka kami bergegas ke Pahandut. Pertama-tama kami mampir di toko kain dulu, membeli batik motif khas Kalimantan Tengah. Lalu membeli kaos, gantungan kunci, gelang, tempat hp, dompet, dan oleh-oleh lain, sehingga penuh deh mobilnya, dan tipis pula kantongnya. Dengan panggilan dari rumah, maka kami pulang untuk memasak ikan dan udang yang dibeli tadi pagi.
Tapi sampai rumah, cuma menurunkan barang belanjaan dan beberapa orang, lalu kami lanjut unutuk mencari kaos, kembaran gitu deh ceritanya. Wah, setelah nego yang alot, maka diputuskanlah kaos hitam bergambar Mandau yang menjadi kaos kami. Ternyata sudah ½ 9 malam!! Ketika ke rumah, ternyata sudah mulai dibakar. Sambil bergantian mandi, membakar, akhirnya makan bergantian pula. Hmmm, udang galah dan nila bakar, maknyuuusss…….hohoho. karena sudah terlalu malam, gak jadi deh nonton bareng. Kami mengobrol, sambil menyetel video perjalanan kami yang diambil oleh Mas Theus.
Hari keempat Selain membangunkan teman-teman sahur, aku juga membangunkan Hepi, yang ingin mengikuti misa pagi. Jadilah kamu berdua misa di Kathedral. Setelah putar-putar sebentar, kami balik. Ternyata teman-teman masih pada tidur. Dengna memaksa, akhirnya semua mandi juga. Setelah rundingan, ternyata masih pada mau belanja, kemaren kurang puas!! Hanya bisa geleng-geleng kepala. Lama juga belanjanya, padahal sudah dibatasi waktunya. Belum lagi ada yang mau mencari dodol durian.
Selesai belanja, kami pergi ke Kum-Kum, kebun binatang mini di Pahandut seberang. Disini ada rakun, monyet, beruang, dan burung Tingang (Rangkong). Setelah puas berfoto-foto, lalu pergi ke Pelabuhan Rambang danTugu Kota Palangka Raya. Pelabuhan ini dulu adalah pelabuhan utama di Palangka Raya, namun sekarang jarang digunakan, sejak jalan darat antar kota sudah terhubung. Malah ada kapal wisata yang bersandar. Sedangkan tugu Kota, adalah Tugu peletakan batu pertama kota Palangka Raya, yang diresmikan oleh Ir.Soekarno, presiden pertama kita. Dikatakan pula bahwa lokasi tugu ini adalah titik tengah Indonesia lho.
Sebagai penutup foto-foto sebentar di rumah betang, lau makan siang. Lalu kami packing, bersiap ke bandara, diantar oleh Ivan. Eh, iya, Ivan ini adikku yang pertama, hehe. Ternyata di bandara ada toko display BOS Nyaru Menteng. Maka kami kembali menyerbu toko ini, sambil kembali membeli oleh2.
Akhirnya, ketika pesawat tiba, kami naik ke pesawat. Sedih juga, karena, aku nggak sempat bermain dengan teman-teman lain, hehe. Tapi jalan-jalanku banyak nih^^. Aku bangga juga dapat mengenalkan Palangka Raya, kota kecilku kepada teman-teman dari luar pulau. Mereka bilang sih terkesan, meskipun main ke kota kecil dan tinggal di keluarga sederhana. Ada pula yang berjanji akan datang lagi suatu kali nanti. Semoga demikian, ditunggu lho.. =)
Ditulis oleh Iyan/Yanuar/Choky, atas permintaan DYC. SITUS YANG TERKAIT : https://www.facebook.com/album.php?aid=2045211&id=1492156693 https://www.facebook.com/album.php?aid=2047409&id=1492156693 https://www.facebook.com/album.php?aid=2047471&id=1492156693 https://www.facebook.com/album.php?aid=2047489&id=1492156693
Bookmark with:
|